Politics & Policy
Beda dari Pemilu Eropa Lain, Sayap Kiri Swedia Malah Bangkit
Jakarta, CNBC Indonesia - Swedia bakal menggelar pemilu nasional pada Minggu. Di tengah meredanya sejumlah persoalan yang sebelumnya menjadi perhatian, partai-partai kiri-tengah mulai kembali mendapatkan dukungan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Swedia bakal menggelar pemilu nasional pada Minggu. Di tengah meredanya sejumlah persoalan yang sebelumnya menjadi perhatian, partai-partai kiri-tengah mulai kembali mendapatkan dukungan.
Meski demikian, kekuatan sayap kanan jauh masih menjadi faktor penting dalam pertarungan politik. Adapun, Kondisi Swedia saat ini relatif membaik dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Mengutip The New York Times, Minggu (13/9/2026), kasus kekerasan bersenjata yang sempat meningkat selama bertahun-tahun mulai menurun. Di sisi ekonomi, sejumlah perusahaan besar seperti Volvo, IKEA, dan Spotify tetap menjadi pemain global yang turut menopang pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, Swedia juga mencatat jumlah miliarder yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara lain dengan ukuran ekonomi dan populasi serupa.
Mengingat pemilu nasional akan berlangsung hari Minggu dan kondisi umum negara tergolong cukup baik, orang mungkin mengira pemerintah petahana berhaluan kanan-tengah akan dengan mudah kembali berkuasa.
Namun, isu yang menjadi perhatian utama pemilih kini mulai bergeser dan justru memberikan keuntungan bagi partai-partai kiri-tengah.
Ini merupakan sebuah fenomena yang melawan tren umum di Eropa. Jajak pendapat terbaru menunjukkan koalisi kiri-tengah unggul tipis atas rival mereka dari kubu kanan-tengah menjelang dimulainya pemungutan suara.
Skandinavia sering kali menjadi pelopor tren sosial, dan Swedia (serta Denmark) memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi ketika isu-isu hangat seperti migrasi mulai mereda dan perhatian pemilih beralih ke hal lain.
Meski demikian, kekuatan politik sayap kanan jauh di Swedia belum kehilangan pengaruh. Kelompok yang selama ini mendukung pemerintahan kanan-tengah tersebut berpotensi mendapatkan porsi kekuasaan untuk pertama kalinya jika koalisi kanan berhasil mempertahankan pemerintahan melalui kemenangan tipis dalam pemilu.
Langkah itu akan menjadi perubahan besar di Swedia sekaligus kemenangan lain bagi kaum nasionalis Eropa, menyusul keberhasilan sayap kanan jauh dalam pemilu Jerman baru-baru ini.
Dalam satu dekade terakhir, politik Swedia mengalami perubahan signifikan. Negara tersebut menerima gelombang besar migran, yang kemudian memicu perdebatan mengenai kebijakan imigrasi dan integrasi.
Situasi semakin kompleks setelah pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina. Perang tersebut mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan.
Partai-partai sayap kanan di Swedia, seperti halnya di Inggris, Italia, Prancis, dan Jerman, memanfaatkan kegelisahan tersebut dan meraih popularitas yang lebih tinggi.
Namun, saat ini, dibandingkan dengan wilayah Eropa lainnya, ekonomi Swedia telah pulih lebih cepat. Sementara tingkat inflasi, migrasi, dan insiden penembakan telah menurun. Akibatnya, menurut para analis, arah angin politik pun telah berubah.
"Situasinya jauh lebih sulit empat tahun lalu," ujar Jens Rydgren, seorang profesor sosiologi di Universitas Stockholm.
[Baca Liputan Selengkapnya di News →](https://www.cnbcindonesia.com/news/20260913185705-4-767527/beda-dari-pemilu-eropa-lain-sayap-kiri-swedia-malah-bangkit)