Culture & Design

15 prospek kerja lulusan sastra Inggris, tak cuma jadi guru

Jakarta (ANTARA) - Lulusan Sastra Inggris sering kali masih dianggap hanya memiliki pilihan karier sebagai guru atau penerjemah. Padahal, kemampuan bahasa, komunikasi, penulisan, analisis, serta pemahaman budaya yang...

15 prospek kerja lulusan sastra Inggris, tak cuma jadi guru
Jakarta (ANTARA) - Lulusan Sastra Inggris sering kali masih dianggap hanya memiliki pilihan karier sebagai guru atau penerjemah. Padahal, kemampuan bahasa, komunikasi, penulisan, analisis, serta pemahaman budaya yang dipelajari selama kuliah dapat digunakan untuk masuk ke berbagai sektor pekerjaan. Program studi Sastra Inggris tidak hanya berkutat pada membaca novel atau mempelajari tata bahasa. Mahasiswa juga dapat mempelajari linguistik, kesusastraan, penerjemahan, jurnalistik, penulisan kreatif, public speaking hingga hubungan masyarakat. Universitas Negeri Semarang (UNNES), misalnya, mencantumkan sejumlah profil lulusan Sastra Inggris seperti penerjemah, juru bahasa, diplomat, editor, content writer, content creator, wartawan, penulis, peneliti hingga konsultan pariwisata. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada menyebut lulusan Sastra Inggris dapat berkarier di bidang pendidikan, penelitian, pariwisata, media massa, perusahaan asing, kedutaan hingga perbankan. Berikut sejumlah profesi yang bisa menjadi pilihan karier bagi lulusan Sastra Inggris. Penerjemah atau translator menjadi salah satu profesi yang paling dekat dengan kemampuan lulusan Sastra Inggris. Pekerjaannya tidak hanya menerjemahkan buku atau karya sastra, tetapi juga dapat mencakup dokumen perusahaan, artikel, materi pemasaran, hingga konten digital. Kemampuan memahami konteks dan budaya juga penting karena penerjemah tidak sekadar mengganti kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Pesan yang disampaikan harus tetap memiliki makna yang sesuai dengan teks aslinya. Berbeda dengan penerjemah yang umumnya bekerja dengan teks tertulis, interpreter menerjemahkan komunikasi secara lisan. Profesi ini dapat dibutuhkan dalam pertemuan bisnis, konferensi, acara internasional, kunjungan delegasi hingga kegiatan pemerintahan. Kemampuan mendengarkan, berbicara secara spontan dan memahami konteks pembicaraan menjadi modal penting. UNNES dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sama-sama memasukkan interpreter atau juru bahasa sebagai salah satu profil karier lulusan Sastra Inggris. Perkembangan media digital membuat kemampuan menulis menjadi semakin dibutuhkan. Lulusan Sastra Inggris dapat bekerja sebagai content writer untuk media, perusahaan, agensi maupun platform digital. Tulisan yang dibuat juga tidak harus selalu berbahasa Inggris. Kemampuan menyusun ide, melakukan riset dan membangun narasi dapat diterapkan untuk menghasilkan konten dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Copywriter berfokus pada pembuatan tulisan yang bertujuan menarik perhatian dan mendorong audiens melakukan sesuatu, misalnya membeli produk, menggunakan layanan atau mengenal sebuah merek. Kemampuan storytelling dan pemilihan kata yang tepat menjadi bekal penting dalam profesi ini. Karena itu, lulusan Sastra Inggris yang tertarik dengan dunia pemasaran dan industri kreatif dapat mempertimbangkan karier sebagai copywriter. UNNES juga memasukkan content writer dan copywriter sebagai salah satu pilihan karier yang berkembang di sektor kreatif dan bisnis. Lulusan Sastra Inggris juga dapat bekerja sebagai editor. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dalam memeriksa struktur kalimat, tata bahasa, pemilihan kata dan alur tulisan. Editor dapat bekerja di penerbitan, media massa, perusahaan, agensi kreatif maupun platform digital. Untuk pekerjaan yang menggunakan bahasa Inggris, kemampuan memahami konteks dan nuansa bahasa menjadi nilai tambah. [Baca Liputan Selengkapnya di Humaniora →](https://www.antaranews.com/berita/5741861/15-prospek-kerja-lulusan-sastra-inggris-tak-cuma-jadi-guru)